Seperti
diketahui, setiap kerajaan di Nusantara memiliki dan sangat menghargai
pusaka, benda-benda yang dianggap sakti. Raja-raja juga mengumpulkan
orang maupun binatang yang "aneh" di sekitar mereka untuk meningkatkan
kesaktian dan keabadian kerajaan. Agaknya, bukan suatu kebetulan kalau
kerajaan-kerajaan Nusantara baru mulai masuk agama Islam setelah Islam
mulai diwarnai ajaran tasawuf wahdatul wujud dan tarekat-tarekat. Karya
sejarah legendaris seperti Sejarah Melayu dan Babad Tanah Jawi
menunjukkan bahwa raja-raja sangat tertarik kepada ajaran tasawuf dan
mempunyai penasehat yang ahli tasawuf. Dari tasawuf diharapkan, antara
lain, kesaktian yang lebih hebat daripada kesaktian pra-Islam.
Teori
tasawuf mengenai kewalian di adaptasi sehingga banyak raja dulu
mengklaim diri sebagai wali dan insan kamil. Dengan demikian
konsep-konsep yang diambil dari tasawuf digunakan sebagai pengganti
legitimasi pra-Islam yang menyatakan raja sebagai Siva-Buddha atau
bodhisattva. Di kerajaan Buton (Sulawesi Tenggara), ajaran tasawuf
mengenai martabat tujuh (yang merupakan penyederhanaan dari teori
tajalli'nya Ibnu Arabi) telah dipakai sebagai legitimasi sistem politik
kerajaan itu. Proses emanasi (tajalli) diidentikkan dengan stratifikasi
masyarakat. Menurut teori sufi martabat tujuh, pada tiga tahap pertama
proses tajalli Tuhan bersifat tanzih (transendental, secara mutlak
berbeda dari sifat-sifat alam), sedangkan empat tahap berikut (dengan
sifat tasybih, immanen) merupakan manifestasi-Nya dalam alam semesta.
Di
Buton, tiga golongan bangsawan (yang dulu, agaknya, dianggap berasal
dari dewata) diserupakan dengan tiga tahap tanzih itu, sedangkan empat
tahap tasybih diidentikkan dengan empat lapisan masyarakat: raja,
bangsawan, orang awam dan budak. Ini barangkali merupakan contoh yang
paling ekstrim dari "pribumisasi" ajaran tasawuf di Indonesia.
Dalam proses islamisasi kerajaan-kerajaan Nusantara, tasawuf dan
tarekat memainkan peranan penting - walaupun dalam proses itu, ajaran
tasawuf kadang-kadang diubah. Ajaran kosmologi versi Ibnu 'Arabi dan
Al-Jili, misalnya, diterapkan sebagai legitimasi tatanan masyarakat.
Amalan tarekat - dzikir, wirid, ratib dan sebagainya - juga diterapkan
dengan tujuan di luar tasawuf. Orang Nusantara masa dulu sangat menaruh
perhatian kepada kemampuan supranatural - kesaktian, kekebalan,
kadigdayan, kanuragan dan segala ilmu gaib lainnya.
Dapat dimengerti
jika pada awalnya mereka menganggap amalan tarekat sebagai salah satu
cara baru untuk mengembangkan kemampuan supranatural itu. Sehingga
terkadang sulit membedakan antara tasawuf dan magis. Sampai sekarang
banyak aliran silat menggunakan amalan yang berasal dari tarekat-tarekat
guna mengembangkan "tenaga dalam", tujuan yang sesungguhnya tidak ada
sangkut pautnya dengan agama lagi. Permainan debus, yang dulu juga
terkait dengan persilatan, nampak berasal dari amalan tarekat Rifa'iyah
dan Qadiriyah. Dalam dunia perdukunan juga dapat ditemukan bacaan-bacaan
dan cara meditasi (mujahadah, muraqabah, dsb) yang berasal dari amalan
tarekat, walaupun penerapannya tidak jarang dikritik oleh kalangan
tarekat masa kini. Tentu saja, tarekat tidak bisa diidentikkan dengan
kegiatan magis itu sendiri.
Dalam sejarah tarekat terlihat, seperti dalam
sejarah Islam pada umumnya, gelombang demi gelombang pemurnian.
Syaikh-syaikh yang disebut di bagian depan artikel ini semuanya pada
zamannya merupakan pemurni agama, dalam arti bahwa mereka berusaha
menggantikan praktek-praktek lokal dengan ajaran dan amalan yang mereka
peroleh di tanah Arab - termasuk penekanan kepada syari'ah. Tuntutan
masyarakatlah yang senantiasa mendorong kepada penerapan "praktis" yang
berbau magis. Ambillah, sebagai contoh, perkembangan tarekat
Naqsyabandiyah, yang selalu syari'ah oriented, di pulau Lombok. Pada abad
lalu tarekat ini punya pengaruh besar di Lombok; penganutnya berkiblat
kepada Syaikh Muhammad Salih al-Zawawi di Makkah, guru yang paling
ortodoks. Sekarang tarekat ini hampir tidak dikenal lagi; tetapi waktu
saya melakukan pelacakan sejarahnya, akhirnya saya bertemu dengan dua
orang keturunan guru Naqsyabandiyah yang pertama. Mereka sekarang tidak
dikenal lagi sebagai guru agama tetapi sebagai guru kekebalan.
Amalan-amalan yang mereka ajarkan kepada pemain silat perisai di sana,
ternyata tetap merupakan amalan-amalan Naqsyabandiyah!
Tetapi dalam
budaya Islam Timur Tengah juga terdapat berbagai tradisi "magis Islam",
yang kadangkala disebut dengan istilah hikmah dan thibb. "Ilmu" yang
berasal dari budaya pra-Islam (seperti wafaq, rajah, dsb) biasanya
disebut hikmah, sedangkan thibb ("pengobatan") berdasarkan fawa'id ayat
Qur'an dan sebagainya. Dua-duanya oleh kalangan luas dianggap sebagai
bagian dari Islam, dan ulama-ulama besar yang ortodoks (seperti Ghazali,
Suyuti, Ibn Qayyum al-Jauzi) pernah menulis kitab mengenai ilmu-ilmu
ini. Ilmu-ilmu ini sering melekat pada tarekat; banyak guru tarekat
sekaligus punya nama sebagai ahli thibb dan/atau hikmah. Menulis jimat
dan isim sudah termasuk pekerjaan biasa untuk seorang syaikh tarekat;
syaikh yang tidak bisa (atau tidak mau) memberikan muridnya jimat
penyelamat dapat dikatakan fenomena langka.
Jimat-jimat,
latihan kekebalan, tenaga dalam dan kesaktian lainnya pada situasi
normal, hanya merupakan aspek kurang penting dalam pertarekatan (walaupun
punya daya tarik kuat). Namun pada situasi tidak aman, dalam perang
atau pemberontakan, aspek ini menjadi sangat menonjol. Dalam banyak
kasus pemberontakan yang melibatkan tarekat, kelihatannya bukan tarekat
yang mempelopori pemberontakan melainkan para pemberontak yang masuk
tarekat untuk memperoleh kesaktian. Dalam beberapa kasus laporan resmi
menyebutkan bahwa menjelang pemberontakan, orang berjubel mendatangi
syaikh-syaikh tarekat yang punya nama sebagai ahli kesaktian, untuk
minta di bai'at oleh mereka.
Suatu kasus yang menarik adalah pemberontakan
anti-Belanda di daerah Banjarmasin sekitar tahun 1860-an. Pemberontakan
itu sudah berlanjut beberapa tahun ketika seorang guru mulai mengajar
amalan yang dinamakan "beratip be'amal" - barangkali suatu varian amalan
tarekat Sammaniyah. Orang berbondong-bondong datang di bai'at dan
diberikan jimat-jimat. Seperti dalam kasus perlawanan di Palembang,
mereka berdzikir dan membaca ratib sampai tidak sadar lagi, dan kemudian
menyerang tanpa mempedulikan bahaya. Tiba-tiba pemberontakan menjadi
jauh lebih membahayakan kedudukan Belanda, dan baru mereda setelah para
pemimpin serangan dari kaum beratip be'amal tewas tertembak.
Dalam kasus
ini tampak bahwa ada pemberontakan dulu, dan barulah kemudian tarekat
dilibatkan. Pada zaman revolusi kita juga melihat fenomena yang
sama. Banyak dari pemuda-pemuda yang siap berperang melawan Belanda ikut
latihan silat dengan tenaga dalam. Di daerah Sukabumi, misalnya, Kyai
Ahmad Sanusi sangat terkenal sebagai guru kekebalan dan silat "sambatan"
(yaitu, murid-muridnya secara supranatural menguasai jurus-jurus yang
tak pernah mereka pelajari). Banyak dari pemuda-pemuda yang aktif ikut
dalam revolusi di daerah itu minta di bai'at olehnya. Kartosuwirjo,
pemimpin Darul Islam di Jawa barat, juga pernah belajar kekebalan dan
silat ghaib pada beberapa guru tarekat, antara lain Kyai Yusuf
Tauziri. Di Banten, Kyai Abdurrahim Maja, guru debus yang terkenal,
memimpin sebuah lasykar Sabilillah yang konon kebal semuanya (tetapi
kemudian gugur di Tangerang). Dari daerah lain kita mendengar cerita
serupa.
Home » Khasanah » Tasawuf sebagai Legitimasi Politik dan Sumber Kesaktian


{ 0 comments... Views All / Send Comment! }
Post a Comment